Dear Mom (Cerpen)

-->

Dear Mom

Peluh membasahi tubuh Raka. Seragam SMA nya mulai basah. Ia berlari menyusuri trotoar jalan dengan rangkaian bunga mawar putih yang disusun cantik. Sesekali ia melirik jam tangannya, untuk  menyadarkan betapa terlambatnya Ia.
            Tibalah Ia di sebuah persimpangan dengan taman di salah satu sudutnya. Ia memasuki area taman, dan memperlambat larinya. Terlihat seorang gadis kecil berseragam putih biru, duduk di salah satu bangku taman. Gadis itu menyambut kedatangan kakaknya.
“Kenapa kakak terlambat?” Gadis itu berdiri dan memandang sinis pada kakaknya yang terengah-engah dengan peluh yang bercucuran.
“Maafkan Kakak ya Kinan. Tadi kakak ada piket dan ada tugas yang tak bisa kakak tinggal.”
Jawab Raka dengan senyum dan nafas yang belum stabil.
“Baiklah. Mana bunga yang Kinan pesan?” Kinan meminta pesanannya. Raka memberikan bunga yang sedari tadi Ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Kemudian Kinan mengambilnya.
“Kenapa warna putih? Kan sudah Kinan katakan, Mama lebih suka warna merah.” Kinan bermimik cemberut.
“Yang warna merah habis Kin. Tinggal yang putih.” Jawab Raka, sambil mengusap kepala adiknya.
“Kakak ini. Makanya jangan biasakan terlambat.”
“Okay, maaf ya.” Raka mengalah.
“Ayo kita harus pulang. Kita akan memasak makanan yang enak di hari ulang tahun Mama sekaligus hari Ibu ini.” Kinan menarik lengan Raka.
Mereka biasa pulang berdua, dengan kereta. Kinan punya gangguan psikis yang membuatnya mudah stress jika sedih. Sehingga membutuhkan perhatian lebih dari orang di sekelilingnya. Kini Kinan sudah beranjak dewasa. Usianya 13, meskipun kelakuan dan sifatnya masih seusia anak kecil. Hal itulah yang membuat Raka harus terus disisinya. Menjaga adiknya tercinta. Menjaga perasaan Kinan yang rapuh.
Setibanya dirumah Kinan langsung menarik kakaknya ke dapur  untuk memasak. Memasak adalah hal yang biasa dilakukan Raka sebagai anak yang mandiri dan banyak belajar dari mamanya.
“Jangan sampai Mama kecewa dengan masakan kita yang tidak enak” Ujar Kinan dengan berlagak Bossy. Raka hanya tersenyum melihatnya. Sambil sesekali menarik Kinan untuk jauh-jauh dari pisau dan kompor.
Hari mulai gelap. Berganti malam yang dingin.


“Papa pulang” Papa masuk dan memberi salam. Kinan berlari menuju pintu.
“Kenapa Papa lama sekali? Jangan sampai masakannya dingin, dan Mama kecewa.” Lagi-lagi Kinan berceloteh dengan wajahnya yang cemberut. Papa hanya tersenyum kecil dan mengusap kepala gadis kecil itu.
“Sekarang, semua sudah datang, dan makanan siap. Biar Kinan panggil Mama.” Lanjut Kinan dan berlari menuju kamar Mamanya.
“Hari ini Ia sangat bersemangat. Dia memarahiku terus, karna kesalahan yang aku buat.” Ucap Raka pada Papanya, mereka duduk di meja makan.
Wajah Papa seketika pucat dan terdiam sejenak. Melihat kondisi itu, Raka hanya bisa bangkit dari kursinya, menghampiri Papanya lalu menepuk punggungnya pelan. Merasakan kepedihan yang mereka rasakan.
Kinan turun ke ruang makan. Ia membawa sebingkai photo besar. Photo itu menggambarkan sosok perempuan cantik yang sedang tersenyum. Raka dan Papa memandangi Kinan yang mendekat. Kinan meletakkan bingkai itu di salah satu kursi didekatnya.
“Karna semua telah berkumpul. Mari kita makan.” Kinan mengambil posisi dan mulai menyantap makanannya. Papa hanya memandang iris, gadis kecilnya tersebut.
Mama memang telah tiada semenjak 3 tahun yang lalu. Ia terjebak kecelakaan pesawat, dan jazatnya tidak ditemukan. Untuk mempertahankan kekuatan mental Kinan, setiap gadis itu bertanya tentang Ibunya, mereka akan menjawab : “Mama sedang istirahat diluar. Sebentar lagi juga pulang. Asal Kinan gak nakal.”
Semenjak itu tiap hari ulang tahun Ibunya yang bertepatan dengan hari ibu, Ia memaksa melakukan acara ini. Demi menunjukkan bahwa Ia tak lagi nakal. Dan Mama berhak pulang. Sedih melihatnya. Menyayat hati Papa dan Raka. Pernah dengan polos, Kinan berkata, “Papa, Kinan sudah gak nakal. Kenapa Mama belum pulang?”. Dan seketika Papa diam, berselimut dingin dan kelamnya rasa bagaimana ditinggalkan. Dan menjelaskan sesuatu yang tidak bisa Ia katakan begitu saja pada gadis ini. Bahwa Mentari-nya itu sudah tidak ada.
Belakangan Kinan tidak menanyakan kabar Mamanya lagi. Kasat Ia sedih, melihat Papanya seakan benci disebutkan nama Mama di hadapannya. Oleh karna luka, yang gadis itupun tak mengerti. Entah kapan, mungkin hari ini mereka harus membuat Kinan mengerti.
Kinan tertunduk dan melahap makan malamnya. Raka dan Papa saling memandang.
“Kinan” panggil Papa. Namun Kinan hanya menjawab tanpa mendongakkan wajah.
“Kinan kan sudah besar. Apa..” Papa menarik napas. “Apa Kinan mau tau dimana Mama?” lanjut Papa pelan.
Tangan Kinan terlihat bergoncang hebat. Dan melepaskan peralatan makannya dari genggaman. Membuat Raka dan Papa khawatir.
“Aku..” Kinan membuka suara. Ia menatap nanar dan tersenyum manis pada papa dan Raka. “Aku tau Mama dimana” sejenak mereka terdiam. Rasa cemas menyelimuti Papa dan Raka. “Mama ada disini.” Kinan menunjuk ke jantung hatinya.
“Sampai kapanpun Mama akan selalu ada disini. Tak peduli dimana Ia sekarang.” Kemudian gadis itu tertunduk lagi. Raka dan Papa tau hatinya sedih, dan ingin menyembunyikan tangis yang rindu belaian Mama. Hal ini mengundang mereka untuk memberikan dekapan hangat keluarga. Yang benar-benar menyatakan bahwa, sampai kapanpun Mama tetap ada dalam diri dan hati sanubari mereka.
Hukum Kekekalan Energi : “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, tapi dapat dirubah ke bentuk yang lain”.
Mungkin Mama telah tiada, namun energi yang pernah Ia berikan akan selalu ada dalam berbagai bentuk lain. Seperti senyum manis Kinan, atau kasih sayang yang selamanya akan mereka rasakan. Nanti saat suatu hari dimana seluruh energy telah musnah, mereka akan jadi satu dalam rumah keluarga yang baru.

by :  Wilujeng laksmi

0 komentar:



Posting Komentar