Pensil Warna Putih



Aku adalah pensil warna putih
Aku hadir tanpa meminta
Aku tampil anggun dengan warnaku
Aku terlihat bersih dari teman-temanku

Namun kehadiranku terkesan tak bermanfaat disana
Awalnya, Aku tak peduli dengan argumen itu
Aku mencoba untuk menjadi yang terbaik
seperti atau sesuai dengan warnaku

Namun,lambat laun Aku lupa akan semangatku yang bergelora
Aku terjerembab ke dalam cacian mereka
Ah, bodoh! mengapa Aku mempedulikan itu?!

Setelah kufikirkan, nyatanya memang Aku tak bermanfaat
Aku, si putih, jarang atau bahkan tak pernah dijamahi
oleh manusia yang sedang berkarya
Aku terkesan tak bernilai..
Atau memang benar-benar tak bernilai?

Aku sedih, Aku kesal, Aku geram..
Mengapa Aku hadir?
Siapa yang akan menjawab?

Dan..
Tangan halus, mungil, harum
muncul membelaiku..
Penuh kasih sayang..
Ia terlihat sangat ramah
Ia baik,
Ia bersahaja..
Ia mengambilku dengan hati-hati

Dan kemudian..
Apa yang ia lakukan?
Ia memakai warna putih sebagai penghapus noda warna yang tak teratur
Ia memakai warna putih untuk mewarnai kapas
Ia memakai warna putiih sebagai lambang kesucian
Kuhayati dengan hening..
Siapa gerangan diriku?
Suci, bersih, dan bermanfaat..
itu Aku, si putih, "pensil warna putih"

Akhirnya, Aku tahu..
Aku akan tetap menjadi si putih yang putih..
Yang menyadari kelebihan dan kekurangannya..

By : Atikah Fajrina

0 komentar:



Posting Komentar